"Sesungguhnya di dalam hati itu ada 1 kekosongan yang tidak akan terhapus melainkan kekosongan itu diisi dengan ALLAH. Dan di dalamnya ada 1 kesedihan yang tidak dapat dihapuskan melainkan dengan kegembiraan mengenali ALLAH dan taat kepadaNya" - Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Thursday, September 2, 2010

Insan Biasa


Aku hanya insan biasa

Seringkali menjadi lupa

Pada akar tujuan hamba

Selalu tercipta salah

Yang aku sendiri tidak sedari

Aku ini insan tak sempurna


Maka bimbing aku ya Allah

Agar tetap menempuh jalan yang lurus

Saat nikmat dilimpahi

Saat diri getir diuji


Maka pimpinlah tanganku teman

Berikan aku nasihat dan pedoman

Teguri aku

Jangan kau diam membisu

Kadang-kala aku perlukan si pemberitahu

Yang jujur membetulkan silapku

Bahagia Menggapai Lailatul Qadar

sumber: al-ikhwan.net oleh Abu Ahmad

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadar:1-5)

Nabi saw bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Gapailah lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan” (Bukhari)

Dari Aisyah ra berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَه

“Adalah Rasulullah saw apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. “ (Bukhari dan Muslim).

Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan dan dinanti-nantikan orang-orang beriman karena kemuliaan dan keagungan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yaitu malam pertama kali diturunkannya Al-Qur’an dan oleh Allah diberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya untuk menggapainya.

Secara harfiyah Lailah berarti malam. Sedangkan Qadar berarti takaran, ukuran, sesuatu yang bernilai dan sesuatu yang terbatas.

Sementara itu, secara istilah para ulama beragam dalam mengartikan kata lailatul qadar;

- Ada yang menyebutnya dengan malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan kitab suci al-Qur’an yang merupakan sumber kemuliaan manusia. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuh kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kamu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Anbiyaa:10)

- Adapun ulama lainnya mengartikan lailatul qadar sebagai malam yang sangat bernilai. Karena pada malam itu ketaatan manusia akan mendapatkan nilai yang tinggi dan pahala yang besar. Bila dihitung secara angkat maka akan diperoleh (1000 bulan X 30 hari X 10 kebaikan = 300.000 kebaikan.

Dan untuk memotivasi para sahabat tentang nilai bulan Ramadhan, maka sejak awal memasuki bulan Ramadhan beliau bersabda:

إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ

“Sesungguhnya, bulan Ramadhan telah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan pada malam tersebut, berarti ia telah diharamkan dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang diharamkannya melainkan orang-orang yang benar-benar merugi,” (Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Sedangkan pendapat lainnya adalah yang mengatakan bahwa lailatula qadar adalah malam yang sesak dengan Malaikat, sebab kata Qadar dapat berarti sempit. Sesat oleh para malaikat berarti mengandung banyak kebaikan dan keberkahan, karena mereka adalah makhluk paling mulia, yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu taat dari apa yang diperintahkan. Dan pada malam itu pula para malaikat berdesakan sambil mengucapkan doa kebaikan untuk hamba Allah yang beribadah dan beramal shalih. Sebagaimana Allah berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadar:4-5)

Keutamaan dan keagungan lailatul Qadar

Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, baik secara tersurat maupun tersirat, diantaranya adalah:

1. “Lailatul Qadar nilainya lebih baik dari seribu bulan, Artinya ibadah yang kita lakukan pada malam tersebut jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (Al-Qadar :3)

2. Malam tersebut penuh dengan keberkahan (kebaikan yang melimpah). Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) pada malam yang penuh keberkahan” (Al-Dukhaan:3)

3. Malam tersebut penuh dengan ampunan. Rasulullah saw bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar (dengan ibadah) semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu,” (Bukhari)

4. Malam tersebut adalah malam dimana para malaikat makhluk Allah yang suci turun ke dunia untuk memberikan salam kepada hamba-hamba Allah yang taat beribadah kepada-Nya

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadar:4-5)

Adapun terkait dengan waktu terjadinya Lailatul Qadar, para ulama beragam pendapat. Ibnu Hajar menyebutkan lebih dari 40 pendapat. Namun, bila kita membaca hadits-hadits Nabi SAW, dapat kita simpulkan sebagai berikut :

1. Lailatul Qadar terjadi setiap tahun pada bulan suci Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir. Sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwa nabi saw bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul Qadar di malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Bukhari).

2. Lailatul Qadar terjadi pada tujuh hari terakhir pada bulan suci ramadhan. Sebagaimana yang dalam hadits imam Malik, diriwayatkan oleh ibnu Umar, beliau berkata:

أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Bahwa seseorang dari sahabat nabi bermimpi bertemu malam lailatul Qadar dapat tujuh malam terakhir, maka Rasulullah saw bersabda sesungguhnya saya juga melihat seperti mimpi kalian lailatul qadar pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah di tujuh malam terakhir”. (Muwattha Malik)

3. Lebih spesifik lagi adalah pada tanggal 27 Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama dan tanggal 21 menurut Imam Syafi’i. Ibnu Abbas pernah meminta sahabat yang lebih tua, lemah dan tidak mampu berdiri berlama-lama untuk bertanya kepada Rasul, kapankah ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar? Rasulullah saw menasihati agar ia mencarinya pada malam ke 27 (Thabrani dan Baihaqi).

4. Malam Jum’at yang jatuh pada tanggal ganjil, juga perlu diperhatikan, karena hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyaam (penghulu hari-hari) dan Yaumul ‘Ied (Hari raya) pekanan bagi umat Islam.

Adapun yang paling baik kita lakukan pada Lailatul Qadar adalah beribadah dan ber-taqarrub kepada Allah. Sedangkan diantara ibadah yang dianjurkan adalah :

1. I’tikaf, yaitu berada di masjid. Karena, Rasulullah saw melakukan I’tikaf dan menjadikannya budaya yang tidak pernah beliau tinggalkan.

2. Qiyamul Lail (shalat Malam). Rasulullah saw bersabda:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan qiyamul Lail karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lain,” (Bukhari)

3. Berdoa dan berdzikir.

عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّا

“Aisyah ra berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu apabila aku mengetahui Lailatul Qadar? Apa yang sebaiknya aku ucapkan?” Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesunggughnya Engkau adalah pemaaf dan menyukai maaf, maka maafkanlah daku),” (Tirmidzi).

Sementara itu, Lailatul Qadar dapat kita ketahui dari tanda-tandanya, seperti yang banyak diungkapkan para ulama dan ahli hadits seperti Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,

تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ

“Kami saling mengingat-ingat tentang lailatul Qadar disisi Rasullah saw, lalu beliau bersabda: Siapakah diantara kalian yang ingat ketika bulan muncul seperti belahan kelopak mata”. (Muslim)

Dalam hadits lain seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hudzaifah dari Imam Ali berkata:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتُ حِينَ بَزَغَ الْقَمَرُ كَأَنَّهُ فِلْقُ جَفْنَةٍ فَقَالَ اللَّيْلَةَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Nabi saw bersabda pada saat saya keluar dan bulan telah muncul seakan seperti potongan kelopak mata, beliau bersabda: Inilah adalah lailatul Qadar” (Ahmad)

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وََاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Dari Zur berkata: Saya mendengar Ubay bin Ka’ab berkata, disebutkan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata: Siapakah yang berdiri melakukan shalat dan mendapatkan lailatul Qadar? Ubay berkata: Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia. Sesungguhnya ia terdapat pada bulan Ramadhan yang disumpahkan dari apa yang dikecualikan, dan demi Allah aku paling tahu malam berapakah itu terjadi, yaitu malam yang saya diperintahkan di dalamnya untuk shalat malam pada pagi harinya tanggal 27 dan tanda-tandanya adalah matahari terbit di pagi hari dengan cerah namun tidak ada cahaya matahari menyengat”. (Muslim)

Karena itu, marilah menggapai puncak bahagia saat mengikuti bulan Ramadhan dengan selalu menjaga hadirnya 10 malam terakhir, khususnya lailatul qadar, dengan harapan dapat meraihnya dan mendapat ampunan dan pahala berlipat ganda.

[al-ikhwan.net]

Wednesday, September 1, 2010

Hujan Emas @ Hujan Batu


Ini sebenarnya tajuk Forum Perdana Hal Ehwal Islam (22.07.2010-Khamis).


Antara hujan emas di negara orang @ hujan batu di negara sendiri, mana yang akan kita pilih..


Memilih berada di tempat orang tidak bermakna tidak mencintai tanah air sendiri,

Bertapak di negara asing tidak bermakna jati diri sudah tiada,

Singkap segala kelebihan di bumi kita dan sisih segala kekurangan yang ada,

Semoga kita generasi kini menjadi watak BESAR dalam mencerahkan kebaikan dan membangunkan tanahair sendiri.


TETAPI


Walau di mana jua berada, kecintaan terhadap bumi tanah tumpah darah kita sendiri JANGAN dilupakan.

Aku adalah insan yang mencintai sebuah pengembaraan meskipun ianya panjang buatku kerana aku ingin mengutip 1001 mutiara dalam kembara di bumi Allah ini supaya aku dapat mengambil iktibar di penghujungnya dan sejauh mana pun kaki melangkah pasti HUJAN BATU tersemat dalam ingatan.


SALAM MERDEKA BUMI BERTUAHKU MALAYSIA,

SEIRING RAMADHAN SEMOGA KEMERDEKAAN PENUH KERAHMATAN,

MARI MERAIH KEMERDEKAAN LAHIRIAH JUA ROHANIAH!

Sunday, August 15, 2010

Rahmah

Dijanjikan Allah pada 10 Ramadhan pertama bahawa Allah akan melimpahkan rahmatNya kepada hamba-hambaNya yang beriman; melalui awal Ramadhan ini dengan penuh ketaatan dan ketaqwaan kepadaNya.


Semoga kita tergolong dalam golongan yang BERUNTUNG pada Ramadhan kali ini, Allahumma Ameen ya Rabbana!


Mari renungkan firman Allah yang bermaksud:


“ Dia menentukan rahmatNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki kurnia yang besar.” (ali-Imran:74)


“ Dan orang-orang yang beriman (lelaki & perempuan), sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan solat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (at-Taubah:71)


“ Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’ ” (Yunus:58)


Doa yang paling mustajab adalah dari al-Quran, semoga Allah mengabulkan doa kita sepertimana Ashabul Kahfi yang bermohon kepada Allah;


" Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. " (al-Kahf:10)