"Sesungguhnya di dalam hati itu ada 1 kekosongan yang tidak akan terhapus melainkan kekosongan itu diisi dengan ALLAH. Dan di dalamnya ada 1 kesedihan yang tidak dapat dihapuskan melainkan dengan kegembiraan mengenali ALLAH dan taat kepadaNya" - Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Friday, November 12, 2010

Setia

Sudah lama tidak menukilkan coretan diri di blog ini. Akal berputar penuh ilham untuk menafsirkan namun kekangan masa menghambatku dari menzahirkan ilham yang ingin dicurahkan.

Kesibukan.

Kini aku laluinya lagi dan sebenarnya memang telah lama aku merindukan saat diri dikerah dan tenaga dimanfaatkan sebaiknya.

Alhamdulillah. Ucapan syukur ke hadrat Ilah yang memudahkan segala urusanku dan menetapkan kakiku untuk menapak lebih jauh lagi.

Kali ini bicaraku tentang setia…

Apa yang difikirkan andai setia menjadi persoalan di minda. Adakah di fikiran akan mengikat makna setia pada seorang teman yang dianggap kekasih…seseorang yang bernama insan. Jika makna setiamu berada di lingkungan itu maka sebenarnya kita telah gagal menguasai kesetiaan yang hakiki.

Luaskan pemikiranmu, lihatlah dengan pandangan yang terbuka dalam mentafsirkan kesetiaan dalam diri kita.

Ini adalah bicara tentang kesetiaan seorang hamba kepada Ilah, apakah pernah kita menilai kembali kesetiaan yang besar ini sebelum kita mahu bicara tentang menjadi seorang yang setia kepada insan yang tidak layak bagi kita sebelum tiba waktunya untuk kita benar-benar menjadi seorang yang setia kepadanya…?

Bukan niatku untuk menilai tetapi perbanyakkan bertanya kepada diri kita sendiri…

Allah sebenarnya telah mengajari hambaNya untuk menjadi seorang yang setia dengan menyuruh kita menjadi seorang hamba yang taat kepadaNya. Cinta kepada Allah bukanlah sekadar memenuhi ketaatan tetapi pembuktian kesetiaan. Allah menguji keimanan untuk melihat sejauh mana kesetiaan kita kepadaNya.

Adakah sekadar cukup pada setia apabila dicurahkan nikmat namun menjauh dari sisi Tuhan saat Dia menurunkan penderitaan?

Ada pula yang cukup setia saat hari-hari kesusahan namun apabila kesenangan tiba…kesetiaan digadaikan?

Aku bertanya kepada diri…adakah aku setia pada Rabb yang Azali?

Aku takut jika nanti aku tidak setia, maka Allah akan memutuskan tali pengikat kesetiaan seorang hamba dan Khalik. Saat itu kepada siapa lagi perlu dirujuk andai yang Maha Kuasa tidak lagi setia padaku. Apalah gunanya setia yang lain itu…

Menjadi seorang yang setia memang bukan mudah tetapi betapa mudahnya untuk setia jika kita tahu akan sebab untuk setia. Perkara yang dinamakan ujian itu takkan pernah lekang untuk singgah di sepanjang kehidupan, kesetiaan menjadi taruhan. Kita diuji untuk tetap setia patuh melaksanakan perintahNya, menyampaikan seruanNya dan setia dalam beramal di saat sendiri dan di saat keramaian. Saat itu, kita boleh mengukur tahap kesetiaan kita berada di aras yang mana.

Di aras manakah kesetiaan kita kepada Ilah?

Seseorang yang dapat menguasai kesetiaan yang besar ini adalah sangat menakjubkan dalam memberi kesetiaan apabila dia harus memberikan kepada yang selayaknya. Contohnya mari kita lmelihat kepada seorang insan hebat yang bernama Saidina Abu Bakar, seorang hamba Allah yang hebat. Sahabat Rasulullah SAW ini sangat hebat dalam kesetiaannya pada persahabatannya, saat hebat dalam kesetiaannya sehingga digelar as-Siddiq iaitu sehingga pada tahap sentiasa membenarkan setiap butir kata sahabat tercintanya, Rasulullah SAW.

No comments:

Post a Comment